KALEIDOSKOP PARIWISATA 2021: Banyak Program Tapi Belum ‘Membangkitkan’

Date:

Dunia pariwisata Indonesia selama kurun waktu 2021 banyak mengalami penurunan ataupun kerugian bagi pelaku wisata. Tak bisa dipungkiri efek dari Covid-19 cukup dasyat menghantam sektor ini. Beberapa daerah seperti Bali dan Jogjakarta adalah sebagai contoh daerah wisata yang mati suri.

Seperti dikatakan Ketua DPD Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY Bobby Ardyanto Setya Aji mengungkapkan bahwa Daerah Istimewa Jogjakarta disebut mengalami kerugian hingga Rp 10 Trilyun selama pandemi Cocid-19 yang telah berlangsung lebih dari setahun. Angka tersebut belum termasuk dampak ikutan yang dialami oleh ekosistem turunan pariwisata.

Bali sebagai daerah yang paling terdampak pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Pasalnya, masyarakat Pulau Dewata sebagian besar mengandalkan perekonomiannya melalui pariwisata.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Putu Astawa mengatakan, pandemi Covid-19 sangat berdampak bagi pariwisata Bali. Jika dilihat devisa yang dihasilkan, Bali telah rugi sebanyak Rp 9,7 triliun dalam sebulan.

“Kalau dari rujukan devisa kerugian devisa itu kan 9,7 triliun per bulan. Jadi tinggal dikalkulasi sudah berapa bulan kita sudah tidak menerima (wisatawan). Sepi lah. Sudah Rp 116 Triliun per tahun itu kalau kita kalkulasi,” kata Astawa.

Kendati demikian, pengusaha atau pengelola pariwisata bersama pemerintah merumuskan strategi untuk membangkitkan industri pariwisata. Hadirnya vaksinasi Covid-19 yang mulai masuk ke Tanah Air pun menjadi momen pemulihan skala nasional dan menjadi angin segar bagi pariwisata Indonesia.

Perjalanan wisata sepanjang tahun ini mungkin agak berbeda dengan sebelum masa pandemi. Meski harus jatuh bangun untuk kembali bangkit. Namun, ada kabar menggembirakan dari dunia pariwisata selama 2021 ini.

Berikut rangkuman perkembangan industri Pariwisata selama 2021.

  1. Upaya pemerintah bangkitkan pariwisata

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) telah melakukan berbagai upaya untuk membangkitkan sektor pariwisata di tengah kondisi pandemi. Pihak Kemenparekraf menyiapkan infrastruktur dasar yang memiliki kaitan dengan konektivitas di sejumlah destinasi wisata hingga mengadakan pelatihan bagi para pekerja di sektor pariwisata.

Selain itu, pemerintah juga menerapkan protokol CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, and Environmental Sustainability) dengan tujuan keamanan dan kenyamanan pengunjung saat berwisata.

Perlu diketahui, CHSE merupakan sebuah pedoman bagi para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif meliputi jasa transportasi, penginapan, rumah makan, pusat informasi wisata, tempat menjual suvenir dan oleh-oleh, desa dan dusun yang jadi bagian dari lokasi wisata, dan seluruh destinasi wisata.

Kemenparekraf sempat membuat program untuk memulihkan ekonomi seperti wisata vaksin, Work From Bali, pembukaan wisata Bali, Travel Corridor Arrangement, dan beberapa acara di daerah. Namun, semua itu harus ditunda karena adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Jawa-Bali pada 3-20 Juli 2021.

Kemudian, Kemenparekraf mengajukan bantuan hibah pariwisata ke komite PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) sejumlah Rp3,7 triliun. Pengajuan tersebut atas dasar adanya pembatasan sosial yang berimbas signifikan terhadap kelangsungan sektor pariwisata.

  1. Hadirkan konsep wisata baru

Di masa pandemi, kegiatan wisata mengalami perubahan dari sebelumnya. Namun di sisi lain wisatawan jadi bisa merasakan pengalaman liburan yang berbeda dari biasanya. Berikut beberapa konsep wisata baru yang bisa dilakoni:

– Tur virtual

Bagi yang tak memiliki kesempatan untuk melakukan perjalanan, kini tengah mengetren tur virtual. Setiap orang dapat ‘mengunjungi’ berbagai objek wisata hanya dengan modal gawai dan jaringan internet.

Di Indonesia, Kemenparekraf bekerja sama dengan situs Traval.co dan menyajikan wisata virtual dengan fitur video dan foto 360 derajat. Berbagai perusahaan wisata lokal pun meluncurkan situs untuk wisata virtual seperti Indonesia Virtual Tour dan Traveloka.

Sejak bulan April hingga September 2021, Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi juga menggelar kegiatan tur virtual ke 26 Taman Nasional dan taman wisata alam di Indonesia. Tur ini bisa diakses melalui YouTube Direktorat PJLHK (Ayo ke Taman Nasional).

– Dark tourism

Selain tur virtual, konsep wisata baru juga dikenal dengan nama dark tourism. Kegiatan wisata yang satu ini lahir dari kesedihan dan wisatawan akan diajak untuk mengunjungi tempat-tempat terjadinya tragedi atau peristiwa besar seperti perang hingga bencana. Dalam perjalanan wisata ini, pengunjung bisa belajar mengenai sejarah dan bagaimana peristiwa itu terjadi.

Contoh destinasi dark tourism di Indonesia antara lain Museum Sisa Hartaku di Yogyakarta, Museum Tsunami di Aceh, Tugu Peringatan Bom Bali di Bali, dan Monumen dan Museum Lubang Buaya di Jakarta.

– Wellness tourism

Kemenparekraf juga mendorong pengembangan wellness tourism atau wisata kesehatan untuk meningkatkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia. Wisata kesehatan memiliki tujuan mempertahankan gaya hidup sehat, mengurangi stres, dan meningkatkan kesejahteraan jiwa raga.

Yogyakarta, Solo, Bali, dan Tawangmangu merupakan daerah yang dikembangkan untuk wisata kesehatan dengan keunikannya masing-masing. Solo akan berfokus pada wisata herbal, jamu-jamuan, meditasi, aromaterapi, dan makanan sehat. Sementara itu, wisata kesehatan di Yogyakarta mengunggulkan tradisi pijat ala Jawa, meditasi, terapi seni, dan retret.

Ekowisata

Ekowisata merupakan kegiatan wisata alam yang dilengkapi dengan tanggung jawab pada alam, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Tak hanya mengandalkan kondisi alam yang hijau, destinasi ekowisata juga harus memiliki nilai edukatif dan konsep berkelanjutan.

Di Indonesia ada beberapa destinasi ekowisata yang terkenal misalnya Tangkahan (Sumatra Utara), Taman Nasional Tanjung Puting (Kalimantan Tengah), Taman Nasional Komodo (Nusa Tenggara Timur), Raja Ampat (Papua Barat), Kawah Ijen (Jawa Timur), dan Pulau Nusa Penida (Bali).

  1. Pengembangan desa wisata

Sepanjang tahun 2021 ini, Kemenparekraf juga tengah berfokus pada pengembangan desa wisata di Indonesia yang diyakini dapat menggerakan perekonomian masyarakat.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno, mengatakan bahwa desa wisata punya potensi yang harus dikembangkan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Konsep desa wisata harus memiliki beberapa unsur seperti objek wisata alam, budaya, wisata buatan, dan didukung dengan atraksi, akomodasi, fasilitas penunjang, dan mengangkat unsur kearifan lokal.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 , akan ada 224 desa wisata yang mendapat dukungan melalui pendampingan desa wisata. Pada tahun ini, ada 67 desa wisata yang akan disiapkan untuk pendampingan dan dibagi menjadi desa wisata berbasis alam, budaya, dan buatan.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap desa wisata, Kemenparekraf menyelenggarakan program Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Ajang penghargaan ini dibuat untuk desa wisata dengan prestasi dan memenuhi kriteria penilaian sesuai standar Kemenparekraf.

Dengan tema “Indonesia bangkit” ADWI 2021 berharap dapat memberikan semangat pada pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di desa wisata untuk bangkit di tengah kondisi pandemi.

Beberapa desa yang terbaik mengikuti ADWI 2021 adalah Desa Wisata Huta Tinggi (Kabupaten Samosir), Desa Wisata Pulau Untung Jawa (Kabupaten Kepulauan Seribu), Desa Wisata Bonjeruk (Kabupaten Lombok Tengah), Desa Wisata Wae Rebo (Kabupaten Manggarai), dan Desa Wisata Arborek (Kabupaten Raja Ampat).

  1. Meraih Penghargaan bagi industri pariwisata Indonesia

Sepanjang tahun 2021, ada beberapa penghargaan yang diraih oleh industri pariwisata Tanah Air. Dimulai dari tiga pantai di Bali yang masuk dalam daftar 25 pantai terbaik di Asia tahun 2021 dalam kategori Travelers’ Choice versi TripAdvisor.

Tiga pantai tersebut adalah Pantai Kelingking di posisi ke-4, Pantai Nusa Dua di posisi ke-21, dan Pantai Sanur menempati posisi ke-22.

Selain itu, ada pula hotel di Ubud, Bali, yang menerima penghargaan bergengsi dari majalah Travel and Leisure. Tahun ini, Capella Ubud Bali menempati peringkat pertama dalam World Best 2021: Best Resorts Hotel in Asia. Penghargaan ini rupanya didapatkan Capella Ubud Bali dua tahun berturut-turut.

Di penghujung tahun 2021 ini, persisnya diawal Desember. Organisasi Pariwisata Dunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNWTO) mengumumkan penghargaan Best Tourism Village 2021 kepada 44 desa dari 32 negara di dunia. Salah satunya adalah Desa Nglanggeran, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebagai satu-satunya perwakilan dari Indonesia, Desa Nglanggeran berhasil lolos penilaian UNWTO. Desa wisata ini dikenal dengan potensi wisatanya seperti Gunung Api Purba, Embung Nglanggeran, Air Terjun Talang Purba, Kampung Piyu, dan Air Terjun Kedung.

Namun diantara program-program tersebut masih banyak yang belum menyentuh turunan pariwisata, semoga di tahun 2022 ini pariwisata akan bangkit kembali sesuai keinginan semua pelaku usaha.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

JAKARTA, INSIDETRAVELER.ID, - Vasaka Hotel Jakarta baru saja merilis...

Weekend Deal di Bulan Juni Dari Vasaka Hotel Jakarta

JAKARTA, INSIDETRAVELER.ID - Juni 2024 Vasaka Hotel Jakarta baru...

Artotel Casa Kuningan Meriahkan Program “Jelajah Nusantara” Khusus Masakan Khas Jawa dari Artotel Wanderlust

JAKARTA, INSIDETRAVELER.ID - ARTOTEL Casa Kuningan yang berlokasi di...

Artotel Casa Kuningan Hadirkan Promo F&B Spesial di La Gazette All Day Dining

JAKARTA, INSIDETRAVELER.ID – ARTOTEL Casa Kuningan yang berlokasi di...